Pojokgarut.com – Lapangan MAN 1 Garut menjadi saksi semangat baru Kementerian Agama Kabupaten Garut dalam memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-80, Selasa (9/12/2025). Bukan sekadar seremoni tahunan, momentum ini berubah menjadi panggung gagasan besar Kepala Kemenag Garut, Dr. H. Saepulloh, M.Pd.I, yang tampil dengan pesan kuat mengenai arah baru pelayanan keagamaan di daerah.
Dalam sambutan yang penuh energi, Saepulloh menegaskan bahwa Kementerian Agama bukan hanya institusi yang ada, tetapi lembaga yang harus terus bergerak, bekerja, dan melahirkan inovasi nyata bagi masyarakat.
“Kementerian Agama harus tetap ada, akan tetapi bergerak. Harus tetap ada, akan tetapi berbuat sesuatu. Harus tetap ada, akan tetapi berinovasi. Harus tetap ada, akan tetapi bermanfaat untuk umat,” tegasnya, disambut tepuk tangan peserta.
Saepulloh menuturkan bahwa Kemenag telah lama tertanam dalam kepercayaan masyarakat. Karena itu, seluruh jajaran Kemenag Garut dituntut menjaga kepercayaan tersebut melalui sikap, karakter, dan rasa memiliki yang kuat.
Menurutnya, Kemenag adalah “rumah besar” bagi seluruh umat beragama, dan tugas utama lembaga ini adalah memastikan iklim kehidupan keagamaan tetap adem, rukun, dan harmonis.
Di hadapan tamu undangan, Saepulloh memaparkan capaian dan langkah strategis Kemenag Garut dalam meningkatkan kualitas layanan. Mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pembenahan layanan publik berbasis digital, hingga penguatan fungsi-fungsi penyuluhan keagamaan.
“Garda terdepan kami ada para penyuluh, penghulu, kepala KUA, guru, kepala madrasah, pengawas madrasah, dan pengawas PAI. Semuanya bergerak bersama membangun kebersamaan dan harmonisasi umat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder merupakan kunci untuk memperluas manfaat Kemenag bagi masyarakat.
Di tengah dinamika kehidupan sosial saat ini, Saepulloh memberi perhatian khusus pada penguatan moderasi beragama. Menurutnya, perbedaan bukan alasan untuk berjauhan, melainkan dasar bagi persatuan.
“Kemenag harus hadir untuk menjaga perbedaan sebagai dasar persatuan. Toleransi harus dijaga, moderasi diperkuat, dan Kemenag menjadi ruang teduh bagi semua umat,” tambahnya.
Penutupan sambutan Saepulloh menjadi semacam ikrar moral bagi seluruh jajaran Kemenag Garut. Ia mengajak semua pihak untuk menghadirkan pelayanan terbaik sesuai tugas masing-masing, demi terwujudnya masyarakat Garut yang harmonis dan sejahtera.
“Kebaikan itu ada di pundak kita. Mari wujudkan pelayanan terbaik sesuai peran dan fungsi kita masing-masing,” tutupnya.
Peringatan HAB ke-80 di Garut tahun ini bukan hanya menandai usia panjang Kementerian Agama, tetapi juga membuka babak baru transformasi pelayanan keagamaan yang lebih inklusif, inovatif, dan menyejukkan—dipimpin oleh visi kuat Kepala Kemenag Garut.(***)












