(Sasana Laskar Daboribo Fighting Camp )
Pojokgarut com – Di tengah perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, ada semangat juang lain yang tak kalah membara di arena GOR Bima, Kota Cirebon. Lima atlet muda asal Kabupaten Garut sukses menembus final Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Muaythai Jawa Barat 2025—sebuah prestasi yang membanggakan, namun juga menyisakan catatan penting soal minimnya perhatian dari pemerintah daerah.
Kelima fighter dari Sasana Laskar Daboribo Fighting Camp itu mencatatkan pencapaian luar biasa setelah mengalahkan lawan-lawan tangguh dari berbagai kota/kabupaten. Mereka adalah:
Riansyah Ahmad Nurhajam (kelas 43 kg)
Sembara Carlos Setiawan (kelas 56 kg)
Yuda Nu Alam (kelas 56 kg)
Junaedi Sugiarta (kelas 60 kg)
Ajeng Indriyanti (kelas 63 kg)
Lima dari total 15 atlet yang dikirim Pengcab Muaythai Garut berhasil lolos hingga babak pamungkas. Capaian ini bukan sekadar kebanggaan, tapi juga peringatan bahwa potensi Garut di bidang olahraga beladiri tak boleh lagi dianggap sebelah mata.
“Kami Butuh Lebih dari Sekadar Bangga”
Ketua Umum Laskar Daboribo, Agus Maulana Alishaq, S.Kep., Ners atau yang dikenal luas dengan nama Agus Kupluk, menyampaikan rasa syukur sekaligus keprihatinannya. Ia mengapresiasi kerja keras atlet dan pelatih, namun tak menutup-nutupi bahwa jalan mereka masih terjal karena minimnya fasilitas dan dukungan pemerintah.
“Kami sangat bangga bisa membawa nama Garut hingga ke final. Tapi saya tegaskan, ini bukan akhir. Kami berharap ada perhatian yang lebih konkret dari Pemkab Garut. Jangan hanya bangga di media sosial atau saat kemenangan, tapi diam saat anak-anak ini butuh dukungan nyata,” ujar Agus pada Selasa (19/8/2025).
Ia menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak bisa hanya mengandalkan semangat komunitas dan pelatih. Harus ada sinergi nyata dari pemerintah dalam bentuk program jangka panjang, anggaran yang memadai, hingga fasilitas latihan yang layak.
“Kalau ingin Garut punya atlet nasional, bahkan internasional, mulainya dari sekarang. Dari mereka yang masih remaja ini. Dan itu butuh kerja bareng, bukan kerja sendiri,” tegasnya.
Dari Jalan Perintis Menuju Panggung Final
Pelatih utama Laskar Daboribo, Ali Sagar, juga mengungkapkan bahwa prestasi ini bukan diraih dengan mudah. Di balik keberhasilan para fighter, ada kerja keras bertahun-tahun, latihan intensif, dan semangat juang tinggi yang dibentuk sejak usia belia.
“Alhamdulillah, ini hasil dari kerja keras anak-anak yang luar biasa. Mereka bukan cuma dilatih untuk bertarung, tapi juga diajarkan rasa tanggung jawab, disiplin, dan nasionalisme. Kami ingin mencetak atlet yang bukan cuma kuat, tapi juga santun,” ujarnya di markas Laskar Daboribo, Jalan Perintis, Garut.
Ali menambahkan, pembibitan atlet dilakukan sejak usia dini, dengan pendekatan yang hati-hati. Targetnya bukan sekadar juara jangka pendek, tapi membentuk generasi yang tahan uji secara mental dan fisik.
“Kami ingin mereka jadi pejuang, bukan hanya di ring tapi juga dalam hidup. Dan kami berharap capaian ini jadi motivasi bagi atlet lain di Garut untuk terus maju,” pungkasnya.
Garut Punya Juara, Tinggal Pemerintah yang Perlu Bergerak
Keberhasilan lima atlet muda ini menandai titik terang bagi dunia olahraga Garut. Namun, agar api semangat ini terus menyala, perlu peran aktif dari pemerintah sebagai pengayom. Tanpa perhatian serius, talenta-talenta ini bisa padam begitu saja—bukan karena kalah di ring, tetapi karena tak diberi kesempatan untuk berkembang.
Kini, sorotan bukan hanya tertuju pada para atlet yang berlaga di final, tapi juga pada sikap Pemerintah Kabupaten Garut: apakah mereka siap menjadikan prestasi ini sebagai awal perubahan? Atau justru akan kembali melewatkan momentum emas ini












