Caption: Kepala SMPN 1 Karangpawitan, DR.Budi Suhardiman,M.M.Pd. dalam refleksinya tentang pentingnya gerakan “Mari Bangun Garut” (MBG) sebagai energi moral menuju visi “Garut Hebat yang Berkelanjutan”.
Pojokgarut.com — Peringatan Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut bukan sekadar seremoni tahunan dengan balutan simbol dan panggung perayaan. Di balik tema besar tahun ini, “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”, tersimpan pesan yang lebih dalam: ajakan untuk membangun daerah dengan kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama.
Gagasan itu ditegaskan Kepala SMPN 1 Karangpawitan, Budi Suhardiman, dalam refleksinya tentang pentingnya gerakan “Mari Bangun Garut” (MBG) sebagai energi moral menuju visi “Garut Hebat yang Berkelanjutan”.
Menurutnya, MBG bukan sekadar slogan yang terdengar kekinian. Ia adalah panggilan etis bagi seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran konkret dalam pembangunan. “Membangun Garut tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah. Ia harus menjadi kesadaran bersama,” ujarnya.
Memaknai “Gumiwang Tanjeur Dangiang”
Tema Hari Jadi ke-213 Kabupaten Kabupaten Garut tahun ini sarat makna filosofis. “Gumiwang” menggambarkan cahaya dan kilau prestasi. “Tanjeur” melambangkan keteguhan dan kekokohan. Sementara “Dangiang” merepresentasikan wibawa yang lahir dari akhlak dan integritas.
Jika dirangkai, ketiganya menghadirkan gambaran tentang Garut yang bersinar karena capaian warganya, berdiri tegak karena persatuan, serta disegani karena moralitas dan tata kelola yang bersih.
Budi menilai, filosofi tersebut sejalan dengan cita-cita besar daerah: membangun Garut yang unggul sekaligus berkelanjutan. “Kehebatan itu terlihat dari kualitas pendidikan, geliat ekonomi kreatif, pelayanan publik yang responsif, dan keberanian generasi mudanya berinovasi,” katanya.
Adapun keberlanjutan, lanjutnya, tercermin dari konsistensi menjaga lingkungan, merawat nilai budaya, dan merancang pembangunan jangka panjang yang tidak tambal sulam. Sedangkan dimensi “dangiang” menjadi pengingat bahwa kemajuan tanpa integritas hanya akan rapuh.
Dari Perayaan ke Evaluasi Diri
Usia 213 tahun, menurut Budi, menandakan kematangan sejarah. Garut bukan lagi daerah yang mencari identitas, melainkan tengah menguatkan karakter di tengah arus perubahan.
Tantangan ke depan tidak ringan. Perubahan iklim menguji ketahanan lingkungan. Transformasi digital menuntut adaptasi cepat. Persaingan ekonomi menekan daya saing lokal. Dinamika generasi muda menghadirkan peluang sekaligus risiko sosial.
Karena itu, momentum hari jadi seharusnya menjadi ruang refleksi: sudahkah Garut benar-benar “gumiwang”? Sudahkah masyarakat cukup “tanjeur” menghadapi guncangan global? Dan apakah tata kelola pemerintahan serta kehidupan sosial telah mencerminkan sikap “dangiang”?
“Seremoni boleh meriah, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran kolektif setelahnya,” tegasnya.
Membangun dengan Peran Nyata
Dalam pandangannya, gerakan MBG menemukan relevansi ketika setiap warga mengambil bagian sesuai kapasitasnya. Guru membangun melalui literasi dan pendidikan karakter. Petani menjaga kesuburan tanah dan ketahanan pangan. Pelaku usaha menghadirkan inovasi dengan etika. Pemuda merawat mimpi sekaligus kreativitas. Pemerintah memastikan kebijakan yang adil, transparan, dan berkelanjutan.
Garut yang bercahaya, kata dia, tidak lahir dari ambisi sesaat, melainkan dari integritas. Garut yang kokoh tidak dibangun oleh segelintir elite, tetapi oleh gotong royong. Dan Garut yang berwibawa bukan hasil kekuasaan semata, melainkan keteladanan.
Di usia ke-213 ini, ajakan “Mari Bangun Garut” menjadi lebih dari sekadar semboyan. Ia adalah komitmen untuk menyalakan cahaya bersama—agar Garut benar-benar gumiwang, berdiri tanjeur, dan tampil dangiang di tengah perubahan zaman.(Risnadi)












