Pojokgarut.com,— Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, memimpin Apel Gabungan Pemerintah Kabupaten Garut di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda), Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (19/10/2026). Ada pemandangan menarik dalam kegiatan tersebut. Putri menjalankan tugas sebagai inspektur upacara sambil menggendong anak kandungnya sendiri yang merupakan anak bungsunya.
Momen tersebut mewarnai kegiatan kedinasan yang tetap berlangsung dengan pesan serius mengenai persoalan sampah di Kabupaten Garut. Putri menegaskan, kembali beroperasinya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pasir Bajing setelah kebakaran bukan berarti persoalan persampahan telah selesai.
“Dibukanya kembali TPA Pasir Bajing itu bukanlah hasil akhir, tetapi justru momentum bagi kita untuk memperbaiki sistem persampahan, terutama di Kabupaten Garut,” kata Putri dalam amanatnya.
Ia mengapresiasi kerja keras berbagai pihak dalam memulihkan operasional TPA Pasir Bajing. Namun, pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh agar pemerintah tidak terus bergantung pada tempat pemrosesan akhir sebagai satu-satunya solusi.
Penanganan Sampah Harus Dimulai dari Hulu
Putri menjelaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, perkantoran, sekolah, instansi pemerintah, hingga perusahaan. Pandangan tersebut juga mengemuka dalam lokakarya lingkungan yang melibatkan ahli, aktivis lingkungan, dan kelompok muda.
“Di hulu itu artinya tempat sampah pertama kali diproduksi, bisa rumah tangga, kantor, sekolah, instansi, maupun perusahaan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, penumpukan sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga merusak wajah perkotaan dan berpotensi menurunkan daya tarik wisata Garut.
“Kalau TPA Pasir Bajing betul-betul sudah tidak dapat difungsikan, mau dikemanakan lagi sampahnya?” kata Putri.
Karena itu, ia meminta ASN menjadi contoh dalam membangun kebiasaan menjaga kebersihan. Pemkab Garut juga akan memperkuat regulasi persampahan dengan menegaskan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.
“Ketika regulasi terkait persampahan menguat, harus dikembalikan lagi bahwa sebagian besar tanggung jawab sampah ada pada individu masing-masing,” tandasnya.
Selain menyoroti persoalan sampah, Putri menyampaikan empati dan doa bagi warga di Sumatera, Kalimantan, serta daerah lain yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Pesan yang disampaikan dalam apel tersebut menegaskan bahwa pembenahan persampahan tidak cukup dengan memulihkan TPA. Perubahan perilaku, kedisiplinan, dan tanggung jawab bersama harus dimulai dari sumber sampah agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Tegaskan Apel Tetap Berlangsung Khidmat (**)
